Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
/SMS/WA : 08112225788 (08-21.00 WIB) Untuk konsultasi, terapi, dan ruqyah dikenakan infaq seikhlasnya


Artikel Poligami (Polygamy)

Artikel Poligami

Sahabat, tulisan ini merupakan artikel kedua Rumah Cahaya yang bertemakan poligami. Artikel tentang poligami ini bukan untuk mengundang Pro maupun Kontra, apalagi mengundang perdebatan yang biasanya hanya mendahulukan luapan emosi daripada argumentasi yang dilandasi dengan dasar ilmu yang syar’i. Alasan penulisan kembali tema poligami ini adalah karena keprihatin saya dengan begitu merebaknya perzinahan atau seks bebas di luar nikah yang terjadi di sekitar kita yang bahkan sudah dianggap merupakan hal yang biasa.

Sungguh merupakan musibah yang sangat besar apabila sebuah dosa sudah dianggap menjadi hal yang biasa, karena dengan begitu rasa malu untuk melakukannya pun cenderung menipis bahkan hilang. Demikian pula dengan perbuatan zina yang sudah jelas-jelas mengakibatkan dosa yang besar bagi pelakunya, serta efeknya bisa menimbulkan kerusakan yang besar di muka bumi, dimana perbuatan tersebut yang dulu dianggap bejat dan tabu, namun kini perlahan-lahan anggapan tersebut mulai pudar karena sudah dianggap hal yang lumrah.

Perzinahan pun pelakunya tak hanya mereka yang belum pernah menikah, tidak sedikit pasangan yang sudah menikah pun melakukannya, padahal jika mereka pulang ke rumah, di rumah mereka juga terdapat pasangan yang sah dan halal bagi mereka karena ikatan pernikahan. Duuh..

Sebagai seorang suami, saya akan mencoba berbicara dengan hati nurani dengan Anda para suami walaupun hanya tulisan ini yang mewakili. Pembicaraan ini ‘tidak’ saya tujukan buat Anda yang ‘sudah merasa tahan godaan’ sehingga telah cukup dengan seorang istri, tetapi pembicaraan ini lebih tujukan untuk Anda para suami yang ‘sangat rentan’ akan berbagai bentuk godaan kaum Hawa di sekitar Anda.

Apabila Niat Untuk Berzina Sudah Kuat

Saat niat kita sudah bulat maka kesempatan untuk berzina pasti bisa dicari, terlebih-lebih di zaman sekarang ini, di tempat kerja atau tempat tugas, di tengah perjalanan, di tempat wisata, terlebih di tempat-tempat yang memang menyediakan ‘fasilitas’ untuk itu, dan sebagainya benar-benar sangat mudah untuk menemukannya.

Jika kondisi kita sedang berada di kondisi tersebut, sebenarnya masih ada ‘rem’ yang bisa segera kita injak.. yakni, dengan berdzikir atau mengingat-Nya. Dengan mengingat Allah maka kita akan merasakan terus berada dalam tatapan-Nya. Lalu hujamkanlah rasa takut dan malu kepada-Nya, dan jadilah manusia terhormat di hadapan-Nya. Bukankah cinta kita kepada Allah di atas segala-galanya? Jadi, jangan sampai rasa cinta kepada syahwat mengalahkan rasa cinta kepada Allah, karena hal tersebut sama saja dengan menyekutukan-Nya.

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 41)

Ya, mungkin sebenarnya kita juga senantiasa mengingat-Nya, namun ternyata kita tetap tidak merasa gentar dan juga malu di hadapan-Nya. Kita masih berfikir bahwa urusan dosa adalah bagaimana nanti, yang penting gelora syahwat kita harus segera terpuaskan apapun akibatnya. Oke, kalau sudah seperti ini.. cobalah kita memikirkan istri kita, bayangkan bagaimana ia menjaga dan memelihara kesucian serta kehormatannya hanya buat kita suami yang telah menikahinya. Bayangkanlah jika kita sampai berbuat nista, apakah kita tidak akan merasa sangat berdosa kepadanya? Apakah kita tega seandainya ‘milik kita yang dipakai hina’ lalu ‘bekas kotornya’ nanti dipakai pula kepada istri kita yang terpelihara dan suci? Pikirkan dan renungkan, serta tanyakanlah kepada hati nurani kita..

Ingat juga wajah anak-anak yang masih polos dan lugu.. yang bilamana kita pulang ke rumah, mereka menyambut kita dengan wajah berseri dan riang gembira, padahal tanpa sepengetahuan mereka kita sebenarnya pulang dan memeluknya dalam keadaan kotor dan hina. Apakah kita juga tega..? Mungkin istri dan anak-anak tidak tahu dan tidak akan pernah tahu apa yang telah kita perbuat, tapi mari kita ajak bicara hati nurani kita.

Poligami Adalah Solusi

Para ‘ulama sepakat bahwa ‘dasar hukum’ poligami adalah mubah (boleh), bukan anjuran apalagi kewajiban. Namun tidak semata-mata Allah menggariskan aturannya di dalam al-Qur’an sebagai kitab suci-Nya yang mulia bila tidak ada tujuan agung di dalamnya. Bila satu istri memang tidak cukup bagi kita, maka poligami adalah solusinya, walaupun tujuan Allah menyari’atkan poligami bukan hanya untuk tujuan itu.

Kita jangan takut dengan perkataan dan cemoohan mereka yang kontra akan poligami, apalagi perkataan mereka yang berkiblat ke Barat yang begitu keras dengan larangan pernikahan poligami, tetapi membiarkan perzinahan/seks bebas dengan berganti-ganti pasangan merajalela karena dianggap sebagai hak azasi manusia, akan tetapi takutlah hanya kepada Allah jika memang sudah benar-benar khawatir tidak akan bisa menahan diri dan tergelincir ke lembah dosa dan kehinaan.

Anak-anak hasil pernikahan poligami lebih terhormat, mempunyai keturunan (nasab) dan perwalian yang jelas, hak waris, dan sebagainya. Berbeda dengan anak-anak hasil perzina-an, mereka terlantar, terputus keturunan, perwalian, hak waris dan lain-lain, dan mereka pun dipandang hina oleh kebanyakan orang padahal mereka tidak bersalah

Kita juga tidak perlu risau dengan perkataan yang menyebutkan bahwa kita menikah lagi hanya karena nafsu. Akuilah, kita memang menikah karena nafsu dengan harapan semoga menjadi sunnah, daripada kita bicara karena sunnah tetapi dalam-dalamnya hanya karena nafsu. Mungkin mereka lupa bahwa nafsu itu juga ciptaan Allah yang berperan sangat besar baik untuk keperluan poligami maupun monogami. Nafsu bisa menjadi ibadah jika kita bisa mengendalikannya kepada perkara halal, dan sebaliknya bisa menjadi salah dan menimbulkan dosa manakala kita mengarahkannya ke jalan yang hina.

Seandainya poligami yang menjadi pilihan, maka beberapa hal perlu dipersiapkan oleh kita dan juga istri kita, seperti persiapan ilmu, persiapan materi, persiapan mental, manajemen hati dan lain-lain, terutama untuk hati istri kita, agar saatnya tiba nanti rasa sakit dan cemburu yang ia rasakan hanya sewajarnya karena termenej dengan baik, sehingga keadilan sebagai syarat utama poligami bisa terpenuhi. Kita mesti ingat, banyaknya keretakan rumah tangga baik yang dialami oleh pelaku monogami maupun poligami adalah karena kurangnya berbagai persiapan tadi. Semoga artikel tentang poligami ini bermanfaat…

Selain karena prihatin dengan keadaan sekitar, artikel poligami ini juga merupakan ungkapan dari apa yang saya rasakan sebagai laki-laki dari golongan kebanyakan yang mempunyai kecendrungan lebih terhadap perempuan, dan alhamdulillah Allah masih menjaga saya dengan cara-Nya, meski hingga saat ini istri saya pun masih seorang.
~ Cepi Nugraha