Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
/SMS/WA : 08112225788 (08-21.00 WIB) Untuk konsultasi, terapi, dan ruqyah dikenakan infaq seikhlasnya


mesin-cetak-mesin-cetak-offset-mesin-offset-mesin-cetak-bekas

Usaha Percetakan

Beberapa hari yang lalu, ada salah seorang pengunjung blog yang berkomentar di 2 (dua) artikel mesin cetak saya. Tidak berapa lama kemudian beliau (kang Rama, begitu saya memanggilnya) berkirim beberapa e-mail secara rutin yang isinya berkaitan erat dengan dunia percetakan, serta beliau juga meng-add saya sebagai teman di Facebook. Salah satu isi dari pertanyaannya di email adalah:

…….kalau cetak di luar, apa untung & ruginya?…..

Saya pun menjawabnya secara singkat dan sederhana, entahlah.. apakah beliau puas dengan jawaban saya atau tidak, tetapi memang jawaban saya berdasarkan atas pengalaman saya selama ini yang biasa mengerjakan order cetakkan dengan cara dimakloon ke tempat-tempat yang menerima jasa makloon percetakan. Dan inilah jawaban saya (mungkin ada sedikit perubahan dan tambahan dari isi jawaban di e-mail):

Keuntungan Cetak di luar/makloon cetak:

  • Pemakloon tidak harus menanamkan modal atau investasi yg relatif cukup besar untuk membeli mesin cetak berikut perlengkapan cetak lainnya.
  • Sangat baik dilakukan jika order atau kebutuhan cetak masih sedikit.
  • Tidak perlu berpikir, kapan akan kembali modal atau investasi dari perlengkapan cetak. Tetapi biasanya kita berpikir, “kok bisa yaa… tanpa peralatan kita bisa untung yang lumayan..??” 🙂
  • Harga cetak kita terhadap konsumen masih bisa bersaing dengan para pemilik mesin cetak, malah terkadang harga cetak kita terhadap konsumen jauh lebih murah dibanding harga cetak mereka pemilik mesin cetak. Kok bisa ya…?? 🙂

Kerugian Cetak di Luar:

  • Mungkin ada biaya transportasi yang harus dikeluarkan oleh pemakloon untuk pulang pergi ke tempat jasa makloon cetakan. Tetapi hal ini bila seandainya jarak yang ditempuh cukup jauh.
  • Jika order sudah banyak dan perlu waktu yang cepat, pemakloon tidak bisa mengaturnya jadual cetaknya sendirian, tetapi harus berkompromi dulu dengan percetakkan lain tempat kita makloon cetak, dimana mereka juga biasanya banyak order dari konsumennya sendiri serta dari pemakloon lain yang sama-sama mempunyai jadual cetak untuk memenuhi konsumen mereka juga.
  • Ada biaya makloon yang harus dikeluarkan untuk membayar jasa makloon. Tetapi biasanya ongkos makloon tidak begitu besar, sehingga harga terhadap konsumen masih bisa bersaing dengan mereka yg punya peralatan
  • Terakhir.. dan menurut saya hal ini adalah yang paling membuat saya khawatir ialah.. kualitas dari hasil cetak itu sendiri. Dengan memakloon cetak, kita tidak bisa selalu memantau pekerjaan cetak secara langsung, sehingga kontrol kualitas pun tidak selalu bisa kita jaga.

Kekurangan dan kekhawatiran tersebut sebenarnya jangan begitu dijadikan masalah seandainya pemakloon telah terbiasa bekerja sama serta telah menjalin hubungan yang erat dengan para penyedia jasa makloon cetak tersebut, dimana mereka biasanya memperhatikan kepentingan-kepentingan dari para pemakloonnya, termasuk kualitas hasil cetakkan. Dan jangan lupa, walaupun pemakloon tidak bisa langsung menyaksikan pengerjaan cetaknya, pemakloon bisa mengontrol pengerjaan cetaknya dengan cara menelpon ke layanan pelanggan (customer service) jasa makloon tersebut.

Saya anjurkan juga.., jangan hanya dengan satu pihak penerima jasa makloon cetak saja pemakloon menjalin kerjasama, tetapi jalin juga kerjasama dengan beberapa pihak penerima jasa makloon lainnya. Jadi bilamana kita punya jadual order mendesak, kita bisa memilih… mana sekiranya jasa makloon cetak yang sedang kosong atau sedikit pekerjaan order cetaknya, supaya mereka bisa mengerjakan kebutuhan cetak kita secepatnya.

Begitulah.. jawaban terhadap pertanyaan di e-mail tersebut saya uraikan di sini, dengan harapan.. mudah-mudahan bisa bermanfaat juga bagi Anda sahabat-sahabat pengunjung blog saya lainnya. (Cepi Nugraha)

Artikel terkait: