Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
/SMS/WA : 08112225788 (08-21.00 WIB) Untuk konsultasi, terapi, dan ruqyah dikenakan infaq seikhlasnya


Cara Terapi Sakit Maag

Terapi Sakit Maag

Sesuai dengan percakapan yang saya terima melalui WA, maka Terapi Mengatasi Sakit Maag dan Otot Kaku ini saya jadikan sebagai judul postingan kali ini. Beberapa hari yang lalu tepatnya, yakni pada hari Sabtu tanggal 31 Maret 2018, saya menerima pesan dari seseorang di aplikasi WhatsApp yang berlanjut dengan obrolan antara kami berdua sebagai berikut:

“Assalaamu’alaikum. Ini dengan terapi Rumah Cahaya?”
“Mau tanya, biaya terapinya sekitar berapa?”
“Saya sudah lama sakit maag dan otot kaku, apa bisa?”
“Makasih”

“Wa’alaikumussalaam wr. wb”
“Betul, saya admin rumahcahaya.com”
“Biaya terapi seikhlasnya…”
“Bisa kita coba ikhtiarkan, semoga Allah menyembuhkan…”
“Bapak/Ibu berdomisili dimana?. Saya sendiri di Kab. Bandung… dan untuk terapi penyakit seperti yang Bapak/Ibu derita harus langsung datang ke tempat kami, tidak cukup dilakukan secara online”

“Saya di Soreang kang. Kalo terapinya seperti apa ya?”
“Bukanya tiap hari apa ya?. Terus jadwalnya juga jam berapa sampe jam berapa ya?. Makasih”

“Terapi biasanya melalui ruqyah dan ketukan ringan pada titik-titik kunci dari “The Major Energy Meridians…”
“Saya tidak punya klinik terapi dan jadual tetap.. Terapi dilakukan di rumah saya (kadang di tempat klien/pasien), dengan jadual sesuai waktu yang disepakati…”

“Oh oke… kalo besok bisa kang?. Kalo bisa besok, jam berapa ya?. Makasih?”

“Maaf, besok tidak bisa… Senin pagi pukul 08.00 – 12.00 bagaimana?”
“Mohon maaf, ini dengan Bapak/Ibu siapa, dan usia berapa tahun?”

“Oh boleh… Senin jam 9 aja… Dxxxn  – 32 tahun (nama saya samarkan)”

“Baik Kang Dxxxn… In syaa Allaah Senin pukul 9… Alamat saya sudah ketemu di website kan ya…”

“Yang ini kan kang? (sambil menunjukkan screenshoot alamat saya dari halaman Kontak)”

“Betul… Di Majalaya, tanyakan aja Kampung Sanding… Jangan Kec. Pasehnya, khawatir ada yang nunjukkin ke Kampung Pasehnya, jauh…”

“Oh iya kang… terimakasih…”

Begitulah percakapan awal antara saya dengannya. Lalu 2 hari kemudian, yaitu tanggal 2 April 2018 ia datang ke tempat saya disertai dengan sopir pribadi sekaligus salah seorang karyawan di bengkelnya.

Cara pengobatan atau terapi yang saya lakukan memang tidak serta merta langsung ke terapinya. Demikian pula pada saat itu, tamu saya ajak ngobrol dulu ke sana kemari, kemudian obrolan diarahkan menuju ke permasalahan atau sakit yang dihadapinya, termasuk pengobatan atau terapi apa saja yang pernah ia lakukan sebelumnya.

Obrolan saya dengan klien di atas selain untuk menggali informasi, sebetulnya adalah merupakan bagian dari terapi juga, terutama untuk mengatasi gangguan yang diakibatkan oleh latar belakang emosinya, dimana kebanyakan penyakit, disebabkan oleh landasan emosi yang dialami sebelumnya oleh penderita.

Ia bercerita, bahwa dulu ia sangat menyukai makanan-makanan pedas, namun tidak sampai menimbulkan sakit maag. Sakit maag yang ia alami terjadi ketika ayahnya mengalami sakit parah gara-gara meminum obat yang dibeli ayahnya tersebut dari apotik tanpa disertai resep dokter, dan ia malah ikut-ikutan sakit, bahkan penyakit yang diderita ayahnya menjadi washilah nyawa ayahnya tidak tertolong (wafat).

Karena sakit maag yang cukup parah, membuatnya jarang beraktifitas, kecuali hanya beristirahat di tempat tidur. Kemudian pada saat sakit maagnya sudah agak ringan dan ia sudah mulai beraktifitas, akibat dari lamanya tidak beranjak dari tempat tidur tadi, membuat otot pundak dan area sekitarnya mengalali kekakuan, bahkan untuk mengangkat tangan apalagi menjingjing barang saja pun terbatas. Bergantianlah, kalau tidak maag yang sakit, pundaklah yang sakit, dan juga sebaliknya.

Mendengar ceritanya tersebut saya belum cukup puas, karena saya yakin tidak hanya itu penyebabnya, namun ada landasan emosi tertentu yang menyertainya. Setelah saya selidik, baru ia membenarkan, bahwa pernah mengalami kemarahan berulang kali terhadap 2 orang dekatnya. Dan memang sesuai dengan terkaan saya, bahwa diantara penyebabnya adalah kemarahan yang tertahan.

Setelah kejadian yang menimpa ayahnya tersebut, ia tidak pernah lagi bersentuhan dengan obat-obatan kimia, dan lebih memilih terapi alternatif dan herbal. Bahkan untuk makanan dan minumannya sendiri sangat pilih-pilih dan terjaga, bahkan yang tadinya ia adalah seorang pemberani, sekarang banyak dihinggapi kekhawatiran tidak jelas dan berlebihan, dan tentunya ini semua pun tidak baik, dan bisa menimbulkan masalah baru untuk kesehatan fisik maupun psikis.

Untuk masalah gangguan lain seperti gangguan jin, nampaknya ia khawatirkan pula, dan kekhawatiran tersebut terkait dengan sifat buruk dan latar belakang salah seorang dari yang 2 orang tadi, namun kekhawatiran ini tidak terus diperbesar supaya tidak menjadi fitnah, karena memang belum jelas, namun tetap diantisipasi dengan pembacaan ayat-ayat dan do’a-do’a ruqyah.

Tibalah pada sesi terapi. Di sini saya dahulukan terapi dengan ruqyah. Selain untuk memohon perlindungan dan penyembuhan dari Allah, ruqyah pun saya pakai untuk mendeteksi adanya gangguan lain tadi. Tidak dengan ruqyah panjang, cukup dengan ruqyah melalui air minum sebagai media. Alhamdulillaah tidak terlihat ada gangguan lain yang berarti, meskipun ada sedikit kejanggalan, klien merasa tenggorokannya mengering, padahal ia baru saja meminum air, bahkan air minum yang dipakai adalah air bawaannya sendiri.

Setelah ruqyah dirasa cukup, terapi saya lanjutkan dengan Spiritual Emotion Freedom Teqhnique (SEFT) Teraphy dengan maksud untuk menghilangkan gangguan-gangguan yang dialami oleh klien, baik itu gangguan fisik maupun psikis.

Setelah kedua sesi terapi selesai, kami lanjutkan kembali dengan obrolan santai seperti di awal, baik obrolan terkait penyakit maupun hal lainnya. Namun dalam obrolan ini penekanannya tetap kepada bagaimana supaya klien bisa menetralisir emosi negatifnya serta membuang semua rasa khawatir yang berlebihan yang bahkan bisa menimbulkan masalah atau gangguan yang baru pada kesehatan.

Dan seperti biasa, pada saat sebelum saya terapi, klien saya tanya tentang keadaannya saat sebelum terapi tersebut, di bagian tubuh yang manakah sakit (fisik) atau perasaan negatif (emosi) yang dirasa saat itu, dan berapa intensitas rasa sakitnya jika diibaratkan dari angka 0 – 10. Saat itu ia merasakan masalah di perutnya dan juga di pundaknya dengan skala di angka 7.

Setelah saya terapi, saya tanya lagi bagaimana keadaannya. Alhamdulillaah.. Jawabannya, masalah di perutnya sudah hilang, tapi di pundaknya masih tetap di skala 7, namun katanya sekarang emosinya menjadi tenang. Artinya saya tunggu kabar selanjutnya, apakah setelah beberapa hari masalah pundaknya sembuh sama sekali, atau masih mengalami kaku, sehingga diperlukan sekali atau beberapa terapi lagi sesuai dengan redanya masalah yang dirasakan.

Sepulang ke rumahnya, saya pun menerima kembali pesan WA-darinya dalam bahasa Sunda, yang artinya seperti ini:

“Makasih banget kang atas terapi dan ilmunya tadi. Saya puas sekali. Dan maaf sekali, tadi sebetulnya masih sangat betah ngobrol dan masih pingin melanjutkan. Mudah-mudahan lain kali jika akang ada waktu, saya pingin ngobrol-ngobrol lagi. Sekali lagi terimakasih.” 🙂